Tampilkan postingan dengan label Ngacapruk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngacapruk. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 26, 2019

Alhamdulillah, hari ini rabu tanggal 26 Juni 2019. 3 tahun kira-kira sejak aku menulis terakhir kali di blog ini. Selalu lucu memang kalo setiap kali melihat blog, ada semangat menggebu untuk nulis, tapi sesudahnya....menguap hasrat menulis tersebut ke langit lepas. Seolah tidak ada jejaknya buat diikuti.

Manusia (atau saya saja kali ya) mudah sekali berjanji, tapi sering mengalami kesulitan untuk menepati. Itulah yang terjadi pada 'tekad' saya menulis di blog. Tekad yang besar di awal tidak dapat dipelihara kontinuitasnya, keinginan yang begitu tinggi cuma meletup sesaat saja. Kegiatan dan kesibukan lain mengalihkan perhatian saya terhadap aktivitas yang satu ini. Padahal kalo ditilik dari awal, sudah cukup wawasan manfaat blog yang telah saya kumpulkan demi menambah semangat menulis. Tapi semua itu tidaklah cukup untuk menjadikan saya sebagai sesosok 'blogger'. Punya blog tapi bukan blogger. Kan ironi……...

Barulah beberapa tahun kemudian saya menemukan kunci yang saya pikif efektif untuk kembali merutinkan aktivitas menulis. Kunci tersebut adalah kunci seputar bagaimana membentuk sebuah kebiasaan (habbit). Ya! Kebiasaan.

Pada dasarnya tiap orang pasti punya kebiasaan. Bahkan hampir seluruh aktivitas manusia terbentuk oleh suatu pola yang boleh kita sebut sebagai 'kebiasaan', tentu kecuali aktivitas yang sifatnya insidental. Tinggal bagaimana kebiasaan tersebut kita arahkan, kita tentukan agar isinya sesuai dengan keinginan kita. Dengan arti lain, akan ada sebuah peristiwa sarat usaha yang namanya 'merubah kebiasaan'. Nah di sini dia tantangannya :D


Baca teruss

Jumat, April 19, 2013

Ga Asyik Mengeluh tu !


Ketika berpikir keras, mending jangan mengeluh. Karena itu jalan untuk mensyukuri nikmat akal sehat
Ketika bekerja keras, mending jangan mengeluh. Karena itu bagian dari mensyukuri nikmat badan sehat
Ketika berolah raga keras, mending jangan mengeluh. Karena itu cara mensyukuri kondisi fisik yang sedang prima
Saat sakit menimpa, mending jangan mengeluh. Karena itu cara Allah mengampuni sebagian dosa yang lalai kita taubati.
Saat merana, mending jangan mengeluh. Karena nikmat yg kau terima sejak lahir hingga detik ini terlalu melimpah dan tak pantas disandingkan dengan setitik derita yang sedang dirasa.
Dalam setiap kondisi yang tidak kita sukai, sebenarnya masih jauh lebih banyak bagian yang justru harus disyukuri.
Lalu kenapa kita banyak mengeluh ? 
Kita banyak mengeluh karena terlalu sibuk memikirkan keinginan yang belum tercapai, dibandingkan mengingat kebutuhan yang sudah dipenuhi.
Kita gemar mengeluh sebab tidak bisa melihat kebaikan yang tersembunyi di balik yang 'tampak'.
Kita terus bergelut dengan keluhan karena 'kaca mata' kuda yang kita pelihara, menyebabkan cakrawala pandangan sempit terbatas. Hanya melihat itu-itu saja. Kesulitan-kesulitan semata. Luput dari melihat berkah.
Kita menikmati keluh kesah sebab terbiasa melenakan jiwa, tidak menempanya dengan beban berat dan kesulitan. Kita mengizinkan keadaan untuk melemahkannya, padahal kita berkuasa untuk menjadikannya kuat.
Adakalanya kita mengeluh karena mengira bahwa kita orang paling teraniaya di dunia. Paling sengsara di   kolong langit dan penjuru semesta. Padahal sangat mungkin di dekat kita ada yang hidupnya tidak seberuntung kita. Maka tengoklah bagaimana orang lain bisa menangani deritanya tanpa keluhan.
Malah tak selamanya derita itu membinasakan, dengan taufik-Nya kita bisa membalikkan keadaan.
Bahwa derita yang seolah menggerogoti tapi tak bisa membuat kita mati, justru berbalik akan menjadi suplemen penguat diri.
Baca teruss

Rabu, Februari 27, 2013

Biar Beda Zaman, Kita Tetap Satu

Halo telaga langit. Lama kali tak bersua. Bukan rasa bukan dugaan, tapi memang nyata bahwa post terakhirku itu tahun lalu. Masya Allah ...untung saja server google masih setia menampung blog ini meski terbengkalai. Untung saja ga ada fenomena biologis di dunia maya semacam lumutan ato jamuran yang kerap menyerang benda-benda yang diabaikan si empunya, yang biasa tergeletak tak berdaya diujung ruang gelap. meregang diacuh zaman. Tak ada juga keberlakuan hukum alam lain pula yang umumnya menciptakan karat pada logam, mengauskan gerigi yang berputar, mengurangi momentum benda yang bergerak, menggerus kualitas dari waktu ke waktu.

Jadi enaknya di dunia maya ini, dengan menekan beberapa kali tombol yang tepat akhirnya hidup kembali blogku, segar seperti yang baru lahir. Ia seolah memiliki struktur nyawa yang sama sekali berbeda dengan sosok karya lainnya yang bisa lapuk, lemah, menurun daya tahannya, lalu mati dimakan waktu. Dalam kata lainnya, faktor 'waktu' tidak lagi menjadi faktor pembatas yang biasanya mengatur jadwal maintenance kita. Informasi-informasi dalam bentuk kode-kode ini begitu jumawa berdiri di atas sang waktu.

Ia seolah tersenyum sinis ketika melihat roda waktu menggilas satu generasi ke generasi berikutnya tanpa kenal kompromi."Hukummu tak berlaku atas diriku" Serunya kepada sang waktu. "Aku adalah bukti bahwa kekekalan itu bisa terjadi dan engkau tidak akan sanggup menimbulkan keriput tua di wajahku". Tapi biarlah ia berkata-kata tentang keterlepasan ikatannya dengan waktu. Tapi yang bisa kita lakukan terhadapnya adalah memanfaatkan potensi 'kekekalannya' itu untuk mentransfer informasi lintas zaman.

Dengan izin Allah (tentunya), selama di server ga rusak. Tulisan kita menjadi pembawa pesan yang abadi bahkan untuk beberapa generasi di bawah kita. Menginformasikan apa yang terjadi di zaman ini. Memberi tahu corak kehidupan yang bisa jadi sangat berbeda jika dibaca di zaman yang lain. Memaknai nama dan fenomena yang bisa berubah artinya sama sekali karena faktor perubahan budaya yang dibawa waktu. Contohnya adalah kata 'Jarum' : sekarang ini artinya bisa jarum betulan atau bisa rokok merk Djarum :)

Setidaknya kita punya alternatif untuk meneruskan informasi estafeta perjuangan. Untuk menunjukkan bahwa biar kita terpisah oleh jarak waktu yang tak terkira, tapi kita memiliki semangat yang sama., cita-cita yang satu.
Baca teruss

Rabu, November 17, 2010

Darah Kurban

Tema pengorbanan banyak sekali mewarnai kisah-kisah legenda. Sebut saja mulai dari cerita Romeo dan Juliet, Siti Asiah istri Fir'aun, Ramayana, Cinderella and Prince Charming, Ashabul Kahfi, Sampai kisah Cinta Fitri :)

Pastinya ga ada kesepakatan tentang tema yang melandasi lahirnya cerita itu. Toh kisah legenda yang ada dibuat dan dituturkan oleh beragam bangsa di segenap penjuru dunia. didongengkan pada anak-anak di kurun waktu sejak berabad-abad silam. Kalaupun tidak, manuskrip tua dan buku-buku lusuh menjadi bukti sejarahnya.

Pengorbanan memang bahasa yang universal. Pengorbanan adalah pasangannya Cinta. Mereka seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Kalo cinta bisa membuat orang menangis, begitu pula sifat pengorbanan, yang bisa membuat hati terharu. Kalo cinta bisa membuat orang buta, begitu pula pengorbanan, ia bisa bikin manusia tidak mengukur batasan dirinya. kalo cinta mampu membuat manusia jadi lebay, tak jauh dengan pengorbanan yang bisa membuat orang berdebar-debar.

Tapi itulah naluri dasar kita. Sehingga seorang wanita bersiap diri mengorbankan nyawa demi lahirnya anak tercinta. Para ayah berangkat kerja demi keluarga. Pemimpin begadang dan memeras keringat tak kenal henti. Para guru bersabar dengan kebengalan siswa dan sedikitnya gaji. Karyawan bertahan dalam intimidasi kerja.....Para pecinta memang punya cadangan pengorbanan yang tidak terhingga.

Semuanya tidak perlu belajar hal ini, yaitu tentang Filosofi pengorbanan. Bahwa untuk mendapat kenikmatan, kita harus membayar dengan kepedihan. Begitu beruntungnya kita, ritual pengembelihan nabi Ismail menutup acara pengorbanan tumbal manusia. cukup dengan hewan ternak seperti domba, unta, dan sapi. Tidak ada anak gadis cantik yang harus disembelih, anak muda tampan yang ditikam, yang dipersembahkan sebagai bentuk penyembahan dan pengorbanan pada Tuhan. Padahal untuk Allah Rabbul'alamin, segala sesuatu adalah layak dikorbankan...
Baca teruss

Kamis, Juli 29, 2010

Memandang cakrawala

Seorang guru pernah mengatakan "Pergilah belajar ke luar negeri jika kesempatan itu datang". Di sana katanya akan engkau temui banyak hal yang belum pernah engkau lihat. Guru yang lainpun pernah berkata "rajin-rajinlah engkau membaca buku, karena buku itu adalah jendela dunia". Di sana katanya akan engkau ketahui banyak hal yang belum pernah engkau sadari sebelumnya.

Mata kita adalah pintu penghubung antara pikiran dan alam semesta. Antara jiwa dan sekitarnya. Berkat mata ini, kita lihat beragam bentuk juga aneka warna. Kita lihat wajah-wajah manusia yang dengan ajaibnya memiliki anatomi yang berlainan. Mata melihat yang jauh dan yang dekat. Mengamati tidak hanya benda kecil, tapi juga benda sebesar andromeda. Ia adalah teropong yang selalu terbuka dan menyala. Penghibur dan teman setia dikala mana kita terjaga.

Mata adalah jendela dunia dalam pengertiannya yang hakiki. Tanpa mata dunia ini gulita.
Tanpa kesempurnaan mata, dunia ini seperti televisi hitam putih yang tidak mengenal lucunya pink, tegarnya biru, sejuknya hijau, sayunya kelabu, serta riangnya kuning dan oranye. Apalah artinya pelangi selepas hujan reda jika mata tertutup dan absen bekerja.

Mata ternyata ga semata menangkap bayangan dan cahaya. Ia juga mencetak rasa di ruang jiwa dan meninggalkan jejak yang kadang susah dihapus. Gambar yang ditangkap mata bisa mengkerutkan perasaan dan merinding bulu roma. Rasakanlah sendiri apa yang kau rasa saat melihat arakan awan, bentangan laut yang bertemu di ujung cakrawala langit, juga deburan sungai jenih yang tak mau berhenti berlarian dan membelah pegunungan.

Dengan membaca terbentuk pula prasaan-perasaan halus yang tak terduga. Dengan mengeja tulisanpun ternyata bisa kita lihat banyak peritiwa dunia. Biar tinggal di kamar sempit beratap rendah, jangan biarkan diri kita melemah dan tidak sanggup memandang cakrawala.
Baca teruss