Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 21, 2012

Sarat Makna Ramadhan 1433

Segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya pujian yang bisa diberikan oleh makhluk-Nya ini. Terima kasih Yaa Rabbi atas ramadhan tahun ini, terima kasih Yaa Rabbi atas shaum dan qiyam kami, terima kasih Yaa Rabbi atas tilawah dan infaq kami, terima kasih Yaa Rabbi atas taufik taat dan segala macam ibadah kami.

Sungguh Engkaulah yang memberi kami hidayah dan segenap kekuatan untuk menjalankan titah-Mu, dan Engkau pula yang memberi kami pahala, ganjaran, dan kebaikan yang tak terkira atas ibadah yang hakikatnya Engkau yang memudahkan kami untuk melakukannya.

Man Jadda wa Jadda, barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. Akhirnya rampung juga target 3 kali khatam tilawah. Sebuah target yang asalnya ngawur dan seolah dinilai tidak mengukur diri dan kesanggupan. Tapi siapa nyana, kalo sebuah cita-cita 'ngawur' itu bisa melecut semangat besar yang ujung-ujungnya adalah logika dasar seorang hamba, yaitu : "Untuk Allah, apa sih yang tidak bisa kita lakukan ?"

Dengan target yang jelas, 'timing' yang terukur (1 bulan), sasaran antara berupa jumlah lembaran mushaf yang harus dibaca (30 lembar per hari) saya kira setiap kita pasti bisa merencanakan cara untuk mencapai target.

Dengan target mulia tersebut, rasanya tidak adil kalo kita mengejarnya dengan sisa tenaga dan sisa waktu. Harus ada waktu 'pribadi' yang dikorbankan. Dan ternyata memang terasa, bahwa sebenarya kita mempunyai 'stock' waktu luang yang sangat melimpah yang sebenarnya bisa digunakan untuk tilawah (tentu juga untuk amal lain). Herannya, selama ini kita merasa sibuk dan menganggap tidak ada waktu untuk ibadah, termasuk membaca al quran. padahal dengan memasang target, memasang tekad kuat, akhirnya pasir dan debu aktivitas yang tidak bermanfaat yang memenuhi waktu senggang kita dapat kita bersihkan. Inilah salah satu berkah ramadhan yang Allah sembunyikan dan hanya Allah tunjukkan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri dengan amalan yang tidak sembarang.

Selain kisah perjuangan mencapai target khataman qur'an, ramadhan juga menjadi cerita tentang menghidupkan malam


Baca teruss

Kamis, Agustus 02, 2012

Ramadhan 1433 H

Segala puji hanya bagi Allah, Pencipta dan Pengurus Alam Semesta. Dzat Yang Tidak pernah tidur dan kelelahan dalam Membagi rezeki kepada segenap makhluk ciptaan-Nya.

Ramadhan ini kembali kita bersua. Sejuta cinta tertumpah dari berbagai arah. Dia Yang Maha Baik Melipatgandakan kebaikan-Nya di bulan agung ini. Mempesona insan beriman, mengharu rasa bahagia orang yang mengejar derajat takwa.

Ramadhan datang setiap tahun menyambangi kita sebagai pribadi atau komunal. sebagai perusahaan atau bahkan negara. masing-masing menyambutnya dengan cara yg unik dan meriah. Uniknya, di ramadhan ada yang menghitung-hitung keuntungan bisnis, mengkalkulasi perputaran modal, merancang menu harian ta'jil dan sahur, membayangkan barang-barang baru apa aja yang harus dibeli diakhir bulan.

Tapi terserahlah...semoga saja mereka yang melakukan itu tidak lupa akan esensi ramadhan yang sejatinya adalah memburu derajat mulia di sisi Tuhan. Yang artinya pula bahwa unsur ruhani mendahului jasadi. Bahkan ruhani menjadi fokus dari segala sasaran ibadah dan perbaikan akhlak.

Welehh...ko saya malah meracau ala ustadz yang lagi ceramah ya :P

Ya inilah ramadhan dengan keistimewaan-keistimewaan yang melimpah. Ia hadir di setiap tahun bagai oase di tengah gurun pasir. bak air jernih segar untuk pengembara yang dilanda dahaga. Menyediakan kesejukan tepat di jantung kesibukan hidup yang meranggas iman dan kekerabatan.

Kadang tak butuh diskusi dan debat agar satu masalah tuntas. Kadang ga perlu perantara untuk islah perkara antara dua pihak. Kadang tak selalu perlu terapi agar emosi dan amarah bisa reda segera. Kadang tak perlu hiburan dan rekreasi untuk menghapus dendam di hati.

Ramadhan...ia datang lalu lapurlah sebahagian dari berjuta masalah di negeri ini, di kantor ini, di keluarga ini, dan di jiwaku ini. Berjuta orang kembali merasakan lapangnya dada, berjuta orang kembali menikmati ademnya ibadah, berjuta orang kembali merasakan hangatnya persaudaraan dan bening hati.

Ramadhan...ia datang seperti dokter yang menyambangi kampung para pesakitan. Mendiagnosa mereka lalu memaparkan sebab-sebab sakitnya. Memberi evaluasi tahunan dan menjelaskan organ jiwa mana saja yang memerlukan obat dan terapi. Ramadhan datang menyembuhkan jiwa yang lama sakit. Ramadhan datang memulihkan hati yang lama tak terawat. Ramadhan datang menggugah kesadaran tentang hati yang lama diabaikan.

Shaum tidak hanya mendidik rasa empati, tapi juga memuat banyak implikasi lain, dampak ikutan yang tidak bisa lepas. diantaranya shaum melembutkan hati dan ujung-ujungnya jadi rajin evaluasi diri. Shaum juga mengajak disiplin yang ujung-ujungnya melatih kita memaksa diri untuk berbuat kebaikan. Soalnya kita seringkali malas dan ga full dalam beribadah. Cuma sisa tenaga dan sisa dana.

Ada juga keajaiban-keajaiban yang banyak di sini. Selain karena keberkahan tersendiri Allah memberikan 'hiburan' untuk orang-orang beriman berupa kemenangan-kemenangan perang, rezeki yang berkah, kebiasaan hasanah baru yang muncul, pulihnya penyakit-penyakit, atau ilmu-ilmu baru yang ditemukan. Anakku Hanan secara tak diduga belum pernah membatalkan puasanya hingga di hari ke 12 ini. Dia kuat dan tidak mengeluh. Subhanallah, padahal saya sendiri 'kurang' dalam mendidik shaumnya.

Allah mengajak dan menyadarkan kita dengan cara-Nya yang Indah




Baca teruss

Sabtu, Agustus 14, 2010

Menuangkan Rasa

Empat hari lewat sejak saya menulis terakhir kali di Telaga Langit. Niatnya sih waktu terakhir nulis dulu "Saya akan nulis di blog ini setiap hari!! Semangat !!" tapi yang terjadi...ee ooo eee...Telaga langit mengalami kesepian akut karena ditinggal lama oleh pemiliknya sendiri,ampyuuun.

Akan tetapi bukannya saya sengaja dan abai dari aktivitas menulis (mau bela diri). karena ternyata biar bulan ramadhan, di kantor tidak sepi dari aktivitas seperti yang saya kira sebelumnya. Ada kerjaan yang mesti dituntaskan segera dan tentu saja, saya harus memprioritaskan perhatian pada kerjaan itu karena untuk itulah saya hadir di kantor.buat kerja.bukan buat nge-blog.

Ada sih di setiap hari yang terlewat itu keinginan buat nulis di blog. tapi nulis dalam suasana penuh ketergesa-gesaan mengandung kekhawatiran jikalau tulisan yang kita buat tidak punya 'isi' sebagaimana mestinya. Khawatir kalo ketika menulis saya lupa menuangkan muatan yang seharusnya ada di sana. Bukan 'muatan' yang membuat tulisan saya bermuatan, karena saya sadar tulisan-tulisan saya ini tulisan amatiran. Muatan yang terkandung di dalamnya bukan apa-apa. Bisa jadi kosong (mudah-mudahan sih enggak kosong melompong).

Menuangkan 'muatan' dalam sebuah tulisan adalah unsur imaginer yang bersanding dengan deretan huruf-huruf yang kita susun. Sama sekali bukan 'muatan ilmiah', 'muatan sastra,atau 'muatan-muatan' lain seperti yang dipahami kebanyakan orang. Tapi yang saya maksud adalah muatan'rasa' kita sendiri (si penulis) ketika membidani rangkaian kata-kata dan kalimat saat proses penulisan itu berlangsung. Kenapa kita perlu memperhatikan 'muatan rasa' ini dalam tulisan yang kita buat?

Ya karena tulisan saya adalah tulisan saya (tulisan Anda adalah tulisan Anda). Ia adalah 'anak-anak' yang lahir dari rahim pikiran kita sendiri. Adalah kita orang yang pertama harus mampu menikmati tulisan kita sendiri persis saat ketika ia dilahirkan dan mulai tertera di layar monitor kompie kita. persetan lah dengan gramatikal, gaya bahasa, EYD, sastra, dsb. minimal selama kita berbahasia Indonesia dengan benar, dan dapat yakin orang lain bisa menangkap isi tulisan kita, maka menulislah dengan kelapangan menuangkan muatan rasa.

Menuangkan rasa dan menikmati pembuatan tulisan merupakan bekal utama bagi penulis awal agar ia percaya diri sekaligus menjadi dirinya sendiri. proses meniru gaya penulis lain memang tidak bisa dihindari. Tapi kita mau meniru, memodifikasi, atau buat gaya sendiri yang penting lakukan saja ...itulah artinya menuangkan muatan rasa. rasa menikmati, rasa ga tau malu, rasa percaya diri, dan rasa kebebasan seperti terjun dari atas awan.

Menuangkan rasa juga berarti kita biarkan ide kita mengalir seperti air sungai dari atas gunung yang selalu memaksa untuk turun ke arah laut. biarkan ia mengalir bersamaan dengan dentikan jari-jari di atas keyboard. Menuangkan rasa berarti kita menghargai diri sendiri dan buah pikiran kita sebelum ia suatu saat nanti dihargai oleh orang lain.

Sementara untuk saya sendiri...hmm...saya sih senang dengan istilah 'telaga langit'. Mendengarnya saja hati udah sejuk. Ditambah latar langit yang selalu mencetak kesan lapang dan agung. Mudah-mudahan selalu begitu buat tamu dan pembaca.

Setidaknya kita sudah berusaha mengikat ilmu dengan menuliskannya. Berbagi wawasan dengan mempublishkan tulisan. Meramaikan dunia maya dengan kesadaran.
Baca teruss

Rabu, Agustus 11, 2010

Perubahan di Ramadhan

Ini adalah ramadhan pertama saya bersama 'telaga langit'. Blog baruku yang sederhana. Dan kalo diliat dari sejumlah tulisan yang ada di sini, maka judul ini adalah judul ke-4 yang aku tulis sejak blog ini lahir dari rahim emak Google, Juli 2010. Seperti halnya pada blog ini, aku juga menaruh harapan yang besar pada Ramadhan yang satu ini. Biasa lah, kebanyakan manusia kali senang menunggu momen yang tepat buat melakukan perubahan. Padahal dia bisa melakukan itu kapanpun kalo sebenarnya dia mau.

Tapi banyak fasilitas di bulan ini sebenarnya yang membuat ramadhan selalu pas dijadikan momentum untuk merubah diri. Ada seperangkat alat dukung yang sangat membantu untuk mempermudah pencapaian target yang ingin kita raih. Setidaknya ada 3 'alat dukung' yang bisa saya rangkum, yaitu : 1. kejernihan pikiran; 2. semangat berbuat; dan 3. lingkungan yang kondusif.

Perubahan selalu ditunggu untuk hadir. Tanpa perubahan segala sesuati menjadi monoton dan membosankan. Tapi perubahan mestilah berarti dan memuat penambahan nilai. Dari buruk menjadi baik, dan dari baik menjadi semakin baik. dari sempurna menuju inovasi penyempurnaan. Oleh karena itu diperlukan kejernihan berpikir yang menjadi sumber mata air perubahan. Di ranah ini gagasan tentang perubahan mulai muncul untuk kali pertama. Kemudian ada ilmu yang menjadi pemimpin perbuatan. Kejernihan adalah salah satu syarat untuk memperoleh perubahan yang diharapkan. Karena dari kejernihan sikap objektif lebih mudah dilakukan. Minim unsur sugesti atau prasangka. Kejernihan juga menuntut digunakannya 'helicopter view', bukan sudut pandang dari satu pojok sempit dan satu arah.

Kejernihan adalah buah dari penaklukan hasrat badaniah. Tabir-tabir kebenaran yang selama ini tertutupi jauh lebih mudah disingkap dalam keadaan puasa. Selain karena supply oksigen ke organ otak lebih lancar, jiwa manusia pada saat puasa selalu termotivasi untuk berpikir yang baik-baik saja. Jiwa manusia yang telah terkondisikan dengan puasa adalah wadah yang dibersihkan dan haus diisi oleh keridhaan Tuhan. Maka jadilan unsur-unsur jernih yang tersebar di semesta ini dengan mudah diabsorpsi olehnya, sambil menggantikan dan membuang kotoran-kotoran yang ada di dalam.

Jika pemahaman seseorang terhadap wahyu Illahi benar, maka ketika puasa ramadhan pasti dia akan memiliki semangat berbuat. Ini adalah alat bantu kedua, perangkat lahiriah yang memancing agar perubahan muncul ke permukaan. Berbuat tidak sekedar berbuat. amal tidak sekedar begerak. Tapi ia harus berupa perbuatan yang kaya dengan semangat. Kenapa mesti bersemangat? Karena semangat adalah kobaran yang membuat orang mau mengulang-ulang perkerjaan, meneliti lebih dalam, berbuat lebih banyak, memperbaiki lebih sempurna,dan berlari secepat angin. Pahala yang Tuhan obral di bulan ramadhan adalah pendorong agar semangat berbuat terus berkobar. Setiap detik yang berharga di bulan ramadhan adalah umpan bagi para hamba untuk memanfaatkannya dengan kesibukan perubahan. Desahan nafas yang dinilai sebagai dzikir adalah penyentil perasaan halus manusia agar selalu 'awas' dengan keadaan yang sekarang. Semangatlah berbuat! jangan asal-asalan dan angin-anginan. Sebab nafsu dan kebodohan itu raksasa kuat yang hanya bisa ditumbangkan dengan semangat berbuat.

Dan pada akhirnya, berterima kasihlah karena lingkungan yang kondusif di sekitar kita. Bukan lingkungan nyaman yang kita cari sebenarnya. Karena inspirasi untuk perubahan itu malah seringkali tidak hadir di lingkungan yang serba nyaman. Bagaimana seorang anak bersemangat buat memiliki rumah luas jika dia sudah berpuas diri dengan rumahnya sekarang yang sempit.
Inspirasi yang selalu hidup. Seperti apapun lingkungannya. Di ramadhan langkah kita ke mesjid semakin ringan karena orang-orangpun berbuat demikian. Di ramadhan membaca al qur'an bisa kuat semalaman karena orang-orangpun berbuat demikian. Di ramadhan infak rasanya mudah toh kotak-kotak amalpun memang berserakan.
Oleh karena itu pula, hati-hatilah dengan lingkungan yang membuat kita selalu terlambat, selalu tertinggal, selalu berbuat tak bermanfaat, selalu bicara tak berujung pangkal. Inilah ramadhan, kita jadikan dia momentum perubahan.
Baca teruss